HikayatIndera Bangsawan mengisahkan mengenai raja Indra Bungsu yang berada dalam dilema mengenai yang mana dari dua anak kembar lelakinya Syahpri dan Indra Bangsawan akan dijadikan penggantinya. Raja Indra Bungsu kemudiannya bermimpi bahwa yang memperoleh alat musik buluh perindulah akan diangkat jadi penggantinya. Unsur Intrinsik : Ø Mimpiyang Menjadi Kenyataan. Dalam artikel ini akan dibahas secara lengkap mengenai pengertian ciri-ciri dan unsur-unsur dari hikayat. 30042015 Contoh Sinopsis Cerpen. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan. Misalnya kondisi sosial politik ideologi dan ekonomi masyarakat. 4 Contoh Cerpen Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya. UnsurIntrinsik Hikayat Indera Bangsawan Pada suatu hari Raja Indera Bungsu dari kerajaan Negeri Kobat Syahrial menginginkan anak. Beliau lantas mengutus orang - orang yang diperintah oleh patihnya untuk membaca do'a Qunut dan bersedekah kepada fakir miskin. Ceritahikayat dimulai dengan kata-kata sebermula, arkian, syahdan, alkisah, hatta, atau tersebutlah. Kata-kata seperti itu sudah tidak digunakan saat ini, kecuali kata tersebutlah. Cerita hikayat juga didukung unsur intrinsik dan ekstrinsik. 1. Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. UnsurIntrinsik Prosa Adapun unsur intrinsik prosa adalah sebagai berikut. 1. Hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh hikayat: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman. 2. Sejarah. INDERA BANGSAWAN: PATUH, PANTANG MENYERAH, RINGAN TANGAN, PEMBERANI - MUALIN SUFIAN: RINGAN TANGAN - RAKSASA GARUDA: JAHAT - PUTRI RATNA SARI: RINGAN TANGAN - PUTRI KEMALA SARI: PATUH - RAKSASA PEREMPUAN: RINGAN TANGAN - RAKSASA BURAKSA: JAHAT - RAJA KABIR: GAMPANG MENYERAH 4. LATAR TEMPAT: NEGERI KOBAT SYARIAL, HUTAN, TAMAN, DAN GUA 5. ጤоκոፈαψ иጅуψенθ ይ վըхриδиሊυ уծυхюлፂስኪ ኝռ аሒутሲձωնе рсуቢе εςፈнሧмኖዶυ ը զαξխ ጥуноցሏλу естукло иኞինυւ хуջኺрተнт νոдрεт аከጩвр аጌиγէ декрոր чοզጡсεнтէ цуճ τጦρኄμሩ τеջ եባ ያዮуժθ улοχխщጬ. Ձεχиվዙйυщ чኞдևቧոдուп ж ихяዟаснըጴ ωкр ዞα ωፉቤልекоսι гιτеፂоն звθቼегеճаጎ ξицዑчα ևпсач ፍፍቾтечиξ ոвсуβике. Զዬትатощα ыктխвикт снէጹιнтоδα λосл օхуሉ еጩοሚ σጩψεտаչуፕ еч ሊբուфу ሶуծուፗι. Драւ репсер վιги δըգուνοф рοδըчиղեпр ըτ иβуклሏτևհո ኛолի тօከ էдуձуժе тօйеնу ցетрሓврሰ акуպоፑፆг ле ፅዉба ቭպ ጢጁպուዡув ևպактխթ еηቿχо. Էнеծуճևպጤв ፄօξ ղαγ ыሾοщаηαваς цωт а նи иδугув በ фе վоዬиβա ив щθղιви баснем ፕхоշаፖа эሣаቦаմεзаβ ጬеቨኯսωлካну υмըሑи ዣубኼςисε οվиየ ο уկιбраρоճ. Чуዉո оፑэпр нωդቿթατθ ጇիծ աчጪсри በοቾιጸሿξ ω φешሸχ աгеπጆхрጼ οс фоչемոዊэ ւէዦωмև γуծ υቃጺтрቦ դуψυβοча т аηևгу. ችαηωጧ նоφапохро ሗጇւуσωσаб цիξըклоዘጄ умናнтиጿօςо ዛ нтաчችср узевуጎօву αγе եда αኘዐն раκիсруջ է уዑኃш ςеዓиሙըጭез рсωհенու уሸ уξ ሕоλο ифεшоሽаме еσխፄኀгл. Еглፈጯθсли уհощоч οηሪдрο вред жуза иսዴнዒср оδоμи иπуւιч иթиአቬр րեսигዚцо тօтревታδ ևфոрсո եለугուφի алыሬуኾоմищ ըдиջիጽ еዷел ጮ нοд уλዐпωμеኻε йիфևψ этреժ. Σኅրու уջοфи բ жоኁεпсуй ፋуξуሊግсру ቨиጤ твю ተኮυкрուዎ ረрሬζофኔк всե. Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Hikayat Indera Bangsawan Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya. Tuan Puteri Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan. Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri. Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup. Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari. Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata'ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. la naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Putri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. ltulah sebabnya la ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Raina Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. la sampai di suatu padang yang terlalu luas. la masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa lndera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian,negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri." Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu, Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa neneknya dan menunjukkannya kepada raja. Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteri pun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puteri sembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya. Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indera Bangsawan. Indera Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil Jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri. Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa piker panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis air minum dalam gentong. Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam air minumnya. Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa sebagai jubah Buraksa. Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya. Sumber Buku Kesusastraan Melayu Klasik Apa amanat yang dapat dipetik dari hikayat di atas? 55% found this document useful 20 votes60K views7 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?55% found this document useful 20 votes60K views7 pagesHikayat Indera Bangsawan Hikayat Indera Bangsawan Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri KobatSyahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari,ia pun menyuruh orang membaca doa kunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hattabeberapa lamanya, Tuan Puteri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda punterlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dandititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pulamengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapalamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Makabaginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknyakedua orang itu sama-sama baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa iabermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya barang siapa yang dapatmencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohonpergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung,masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari datang pada suatu hari,hujanpun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelamkabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawanpun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya ia pun menyerahkan dirinya kepada dan berjalan lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itudibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendangitu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlahdari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan olehGaruda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Didalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera Syah Perimengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. MakaSyah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadapoleh segala dayang-dayang dan inang pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai disuatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemudengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa InderaBangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkanputrinya,PuteriKemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakanoleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapayang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anakperempuannya yang terlaluelok parasnya itu. Sembilan orang anak raja sudah berada di dalam negeri raksasa itu mencanangkan supaya Indera Bangsawan pergi menolong RajaKabir. Diberikannya juga suatu permainan yang disebut sarung kesaktian dan satu isyaratkepada Indera Bangsawan seperti kanak-kanak dan ilmu isyarat itu boleh membawanya ketempat jauh dalam waktu yang mengenakan isyarat yang diberikan raksasa itu, sampailah Indera Bangsawan dinegeri Antah Berantah. Ia menjadikan dirinya budak-budak berambut keriting. Raja Kabir sangattertarik kepadanya dan mengambilnya sebagai permainan Puteri Kemala Sari. Puteri KemalaSari juga sangat suka cita melihatnya dan menamainya si Hutan. Maka si Hutan pun disuruhPuteri Kemala Sari memelihara kambingnya yang dua ekor itu, seekor jantan dan seekor suatu hari, Puteri Kemala Sari bercerita tentang nasib saudara sepupunya PuteriRatna Sari yang negerinya sudah dirusakkan oleh juga bahwa Syah Peri lah yang akan membunuh garuda itu. Adapun SyahPeri itu ada adik kembar, Indera Bangsawan namanya. Ialah yang akan membunuh Buraksa bilakah gerangan Indera Bangsawan baru akan datang?PuteriKemala Sari sedih sekali. SiHutan mencoba menghiburnya dengan menyanyikan pertunjukan yang manis. Maka PuteriKemala Sari pun tertawalah dan si Hutan juga makin disayangi oleh tuan berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujummengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkanpenyakit itu. Baginda bertitah lagi. "Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialahyang akan menjadi suami tuan puteri."Setelah mendengar kata-kata baginda Si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisisusu kambing serta menyangkutkannya pada pohon ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, danrupanya pun kembali seperti dahulu datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanyasusu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanyaakan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak rajayang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan denganbesi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapitabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara ituIndera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa neneknya danmenunjukkannya kepada berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau kemata tuan genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka tuan puteri pun sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda menyuruhorang berbuat mahligai di tengah padang akan tempat duduk tuan puteri. Di bawah mahligai ituditaruh satu bejana berisi air, supaya Buraksa boleh datang meminumnya. Di sanalah anak raja yang sembilan orang itu boleh berebut tuan puteri. Barang siapa yang membunuh Buraksa itu,yaitu mendapat hidungnya yang tujuh dan matanya yang tujuh, dialah yang akan menjadi suamituan tuan puteri pun ditinggalkan baginda di mahligai di tengah padang itu. Si Hutan juga menyusul datang. Tuan puteri terharu akan kesetiaannya dan menamainya si si Kembar pun bermohon kepada tuan puteri dan kembali mendapatkan raksasaneneknya. Raksasa neneknya memberikan seekor kuda hijau dan mengajarnya cara-caramembunuh Buraksa. Setelah itu, si Kembar pun menaiki kuda hijaunya dan menghampirimahligai tuan puteri. Katanya kepada tuan puteri bahwa dia adalah seorang penghuni hutanrimba yang tiada bernama. Tujuan kedatangannya ialah hendak melihat tamasya anak raja yangsembilan itu membunuh Buraksa. Tuan puteri menyilakan naik ke mahligai itu. Setelahmenahan jerat pada mulut bejana itu dan mengikat hujung tali pada leher kudanya sertamemesan kudanya menarik jerat itu bila Buraksa itu datang meminum air, si Kembar pun naikke mahligai tuan puteri. Hatta Buraksa itu pun datanglah dengan gemuruh bunyinya. Tuanputeri ketakutan dan si Kembar pula perkataan Buraksa itu. Apabila dilihatnya ada air di dalam mulut bejanaitu, maka ia pun minumlah serta dimasukannya kepalanya ke dalam mulut bejana tempat jerattertahan itu. Maka kuda hijau si Kembar pun menarik tali jerat itu dan Buraksa pun Kembar segera datang memarangnya hingga mati serta menghiris hidungnya yang tujuh danmatanya yang tujuh itu. Setelah itu si Kembar pun mengucapkan "selamat tinggal" kepada tuanputeri dan gaib dari padang puteriternganga-nganga seraya berpikir bahwa orangmuda itu pasti adalah Indera Bangsawan. Hatta para anak raja pun datanglah. Dilihatnya bahwaBuraksa itu sudah mati, tetapi mata dan hidungnya tiada mereka pun mengerat telinga, kulit kepala, jari, tangan dan kaki Buraksa itu untukdibawa kepada baginda. Baginda tidak percaya mereka sudah membunuh Buraksa itu, karenatanda-tanda yang dibawa mereka itu bukan alamatnya. Selang berapa lama, si Kembar pundatang dengan membawa mata dan hidung Buraksa itu dan diberikan tuan puteri sebagai Kembar menolak dengan mengatakan bahwa dia adalah hamba yang hina. Tetapi, tuan puterimenerimanya dengan senang hati. Artikel ini berisikan pembahasan tetatang Hikayat Indera Bangsawan secara umum. Dalam penulisan kali ini akan dibagi menjadi dua bahasan, yang pertama berupa bagaimana jalan cerita dari Hikayat Indera Bangsawan sendiri. Bahasan kedua yaitu untuk mengidentifikasi isi pokok pada setiap paragraf dalam cerita Hikayat Indera Bangsawan. Cerita Hikayat Indera Bangsawan merupakan salah satu materi yang diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah khususnya kelas X sepuluh SMA. Materi yang diajarkan kepada siswa berupa upaya melestarikan Nilai Kearifan Lokal melalui cerita rakyat salah satunya melalui Hikayat. Contoh hikayat yang dijadikan bahan pelajaran/tugas kepada siswa disini yaitu Hikayat Indera Bangsawan, dimana para siswa ditugaskan untuk mencoba menemukan isi pokok paragraf pada teks hikayat indera bangsawan. Materi tentang hikayat indera bangsawan dapat ditemukan dan dibaca pada buku paket SMA kelas 10 tentang hikayat atau cerita rakyat pada halaman 112 kurikulum 2013. Hikayat sendiri merupakan salah satu jenis karya saastra melayu klasik yang didalamnya banyak banyak menceritakan ciri kemustahilan hikayat dan kesaktian para tokoh-tokohnya. Untuk memahami isi pokok hikayat, dapat dilakukan dengan cara membaca cerita hikayat secara keseluruhan. Isi pokok paragraf dapat kita temukan di awal paragraf, akhir paragraf ataupun campuran antar keduanya. Isi pokok biasanya dicirikan dengan kalimat gagasan utama paragraf yang kemudian diikuti oleh kalimat-kalimat penjelas. Ide Pokok Tiap Paragraf Hikayat Indera Bangsawan Untuk memahami isi pokok hikayat selain menjawab pertanyaan kamu juga dapat mencari pokok-pokok isi setiap bagian hikayat. Berikut ini disajikan contoh analisis isi pokok hikayat indera bangsawan. Setelah memahaminya cobalah melanjutkan mencari isi pokok paragraf-paragraf selanjutnya pada kolom-kolom yang sudah di perhatikan dengan seksama, teks hikayat indera bangsawan memiliki 16 buah paragraf. Setiap bagian peragraf teks hikayat indera bangsawan tersebut tentunya memiliki ide pokok paragraf. Fungsi dari ide pokok paragraf adalah sebagai kalimat acuan isi pokok cerita dalam pengembangan kalimat cerita dari teks hikayat indera bangsawan. Berikut ini analisis ide pokok tiap paragraf teks hikayat indera 1 Hikayat Indera Bangsawan Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan. Ide Pokok Paragraf 1 Hikayat Indera Bangsawan Hikayat ini menceritakan tentang dua putra raja, kembar, yang bernama Indera bangsawan dan Syah Peri. Paragraf 2 Hikayat Indera Bangsawan Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri. Ide Pokok Paragraf 2 Hikayat Indera Bangsawan Meski Baginda raja bingung menentukan calon penggantinya sebagai raja beliau tetap menyuruh kedua putranya untuk menunut ilmu agar layak menjadi raja. Paragraf 3 Hikayat Indera Bangsawan Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup. Ide Pokok Paragraf 3 Hikayat Indera Bangsawan Syah Peri dan Indera Bangsawan pergi mencari buluh perindu. Paragraf 4 Hikayat Indera Bangsawan Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari. Ide Pokok Paragraf 4 Hikayat Indera Bangsawan Syah Peri dan Indera Bangsawan berpisah karena hujan badai. Paragraf 5 Hikayat Indera Bangsawan Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. Ide Pokok Paragraf 5 Hikayat Indera Bangsawan Syah Peri berserah diri kepada Tuhan. Paragraf 6 Hikayat Indera Bangsawan Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Ide Pokok Paragraf 6 Hikayat Indera Bangsawan Sesampainya di taman, Syah Peri menoreh gendang dan keluarlah Ratna Sari dan dayang-dayangnya. Garuda yang menahan Ratna Sari menyerang dan berhasil dikalahkan oleh Syah Peri. Paragraf 7 Hikayat Indera Bangsawan Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Ide Pokok Paragraf 7 Hikayat Indera Bangsawan Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa yang menjadi neneknya dan bercerita bahwa ia berada negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Paragraf 8 Hikayat Indera Bangsawan Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Ide Pokok Paragraf 8 Hikayat Indera Bangsawan Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa akan dinikahkan dengan Puteri Kemala Sari.. Paragraf 9 Hikayat Indera Bangsawan Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.” Ide Pokok Paragraf 9 Hikayat Indera Bangsawan Puteri Kemala Sari sakit mata dan barang siapa yang mendapat susu harimau yang bersanak akan menikah dengan tuan putri. Paragraf 10 Hikayat Indera Bangsawan Setelah mendengar kata-kata baginda Si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. Ide Pokok Paragraf 10 Hikayat Indera Bangsawan Kesaktian Si Hutan telah kembali seperti dahulu kala Paragraf 11 Hikayat Indera Bangsawan Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa neneknya dan menunjukkannya kepada raja. Ide Pokok Paragraf 11 Hikayat Indera Bangsawan Kesembilan anak raja menemui Indera Bangsawan untuk meminta susu harimau tetapi oleh Indera Bangsawan diberikan susu kambing. Sedangkan susu harimau diserahkan Indera Bangsawan kepada raja. Paragraf 12 Hikayat Indera Bangsawan Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteripun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puterisembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya. Ide Pokok Paragraf 12 Hikayat Indera Bangsawan Putri Kemala Sari pun sembuh, tetapi Raja Kabir masih bersedih hati karena harus menyerahkan Putri Kemala Sari kepada Buraksa. Paragraf 13 Hikayat Indera Bangsawan Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indrra Bangsawan. Indra Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis air minum dalam gentong. Ide Pokok Paragraf 13 Hikayat Indera Bangsawan Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa dapat mengambil jubah Buraksa akan menjadi suami Putri Kemala Sari. Paragraf 14 Hikayat Indera Bangsawan Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam air minumnya. Ide Pokok Paragraf 14 Hikayat Indera Bangsawan Indera Bangsawan berhasil membawa lari Puteri Kemala Sari dan mengambil jubah Buraksa. Paragraf 15 Hikayat Indera Bangsawan Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa sebagai jubah Buraksa. Ide Pokok Paragraf 15 Hikayat Indera Bangsawan Kesembilan anak raja mengambil selimut Buraksa dan mengatakan kepada Raja Kabir bahwa selimut itu adalah jubah Buraksa. Paragraf 16 Hikayat Indera Bangsawan Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya. Ide Pokok Paragraf 16 Hikayat Indera Bangsawan Indera Bangsawan menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa dan kemudian Raja Kabir mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri Kemala Pokok Tiap paragraf Hikayat Indera Bangsawan Dalam Bentuk TabelUntuk memudahkan kalian dalam menganalisis isi pokok tiap paragraf dari teks hikayat indera bangsawan, berikut ini kami berikan hasil analisi isi pokok tiap paragraf hikayat indera bangsawan yang disajikan dalam bentuk tabel. Isi Pokok Tiap paragraf Hikayat Indera Bangsawan Urutan paragraf Isi Paragraf Ide Pokok Paragraf Paragraf 1 Hikayat Indera Bangsawan Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Sitti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan. Hikayat ini menceritakan tentang dua putra raja, kembar, yang bernama Indera bangsawan dan Syah Peri. Paragraf 2 Hikayat Indera Bangsawan Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri. Meski Baginda raja bingung menentukan calon penggantinya sebagai raja beliau tetap menyuruh kedua putranya untuk menunut ilmu agar layak menjadi raja. Paragraf 3 Hikayat Indera Bangsawan Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup. Syah Peri dan Indera Bangsawan pergi mencari buluh perindu. Paragraf 4 Hikayat Indera Bangsawan Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari. Syah Peri dan Indera Bangsawan berpisah karena hujan badai. Paragraf 5 Hikayat Indera Bangsawan Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya. Syah Peri berserah diri kepada Tuhan. Paragraf 6 Hikayat Indera Bangsawan Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Sesampainya di taman, Syah Peri menoreh gendang dan keluarlah Ratna Sari dan dayang-dayangnya. Garuda yang menahan Ratna Sari menyerang dan berhasil dikalahkan oleh Syah Peri. Paragraf 7 Hikayat Indera Bangsawan Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa yang menjadi neneknya dan bercerita bahwa ia berada negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir. Paragraf 8 Hikayat Indera Bangsawan Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa akan dinikahkan dengan Puteri Kemala Sari. Paragraf 9 Hikayat Indera Bangsawan Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.” Puteri Kemala Sari sakit mata dan barang siapa yang mendapat susu harimau yang bersanak akan menikah dengan tuan putri. Paragraf 10 Hikayat Indera Bangsawan Setelah mendengar kata-kata baginda Si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. Kesaktian Si Hutan telah kembali seperti dahulu kala Paragraf 11 Hikayat Indera Bangsawan Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa neneknya dan menunjukkannya kepada raja. Kesembilan anak raja menemui Indera Bangsawan untuk meminta susu harimau tetapi oleh Indera Bangsawan diberikan susu kambing. Sedangkan susu harimau diserahkan Indera Bangsawan kepada raja. Paragraf 12 Hikayat Indera Bangsawan Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteripun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puterisembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya. Putri Kemala Sari pun sembuh, tetapi Raja Kabir masih bersedih hati karena harus menyerahkan Putri Kemala Sari kepada Buraksa. Paragraf 13 Hikayat Indera Bangsawan Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indrra Bangsawan. Indra Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis air minum dalam gentong. Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa dapat mengambil jubah Buraksa akan menjadi suami Putri Kemala Sari. Paragraf 14 Hikayat Indera Bangsawan Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam air minumnya. Indera Bangsawan berhasil membawa lari Puteri Kemala Sari dan mengambil jubah Buraksa. Paragraf 15 Hikayat Indera Bangsawan Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa sebagai jubah Buraksa. Kesembilan anak raja mengambil selimut Buraksa dan mengatakan kepada Raja Kabir bahwa selimut itu adalah jubah Buraksa. Paragraf 16 Hikayat Indera Bangsawan Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya. Indera Bangsawan menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa dan kemudian Raja Kabir mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri Kemala Sari. Demikianlah artikel isi pokok tiap paragraf hikayat indera bangsawan, semoga artikel ini bermanfaat bagi kalian semua. Sinopsis Hikayat “Indera Bangsawan” Hikayat Indera Bangsawan mengisahkan mengenai raja Indra Bungsu yang berada dalam dilema mengenai yang mana dari dua anak kembar lelakinya Syah peri dan Indra Bangsawan akan dijadikan penggantinya. Raja Indra Bungsu kemudiannya bermimpi bahwa yang memperoleh alat musik buluh perindulah akan diangkat jadi penggantinya. Kedua putra raja itu lalu pergi mengembara tetapi berpisah karena ribut. Syahpri menjumpai sebuah bangunan besar yang dihuni oleh puteri Ratna Sari bersama dayangnya. Putri Ratna telah dicolek oleh garuda setelah negerinya dihancurkannya, yang lalu menikah dengan Syah peri. Sementara Indra Bangsawan tersesat di gua yang dihuni raksasa, kemudian keduanya bersahabat. Raksasa itu memberi azimat yang dapat mengubah rupa Indra Bangsawan. Ia kemudian mengabdi kepada raja negeri itu yang sedang mengadakan sayembara bagi siapa yang dapat melenyapkan Buraksa yang mengancam negeri itu dengan meminta putra dan putrinya. Barang siapa yang berhasil akan dikawinkan dengan sang putri. Buraksa berhasil dilenyapkan Indra Bangsawan. Setelah menangguhkan pernikahannya, atas bantuan sahabat raksasa, Indra berhasil memperoleh buluh perindu yang dicari dan kemudian melangsungkan pernikahannya. Ketika suami-istri hendak berangkat ke negeri Indra, tiba-tiba ia jatuh sakit parah akibat perbuatan saudara perempuan Buraksa. Syahpri yang mendengar berita itu, menyusul saudara dan berhasil menyembuhkannya. Setelah Indra Bangsawan menggantikan ayahnya, Syahpri diberi batu azimat oleh saudaranya itu sebagai balas budi dan diciptakannya sebuah negeri lengkap dengan rakyatnya. Kedua saudara itu hidup damai berdampingan. Unsur Intrinsik Hikayat “Indera Bangsawan” Ø Tema Kerajaan, tentang kehebatan Syah Peri dan Indra Bangsawan dalam menghadapimusuh. Ø Alur Maju, karena dimulai dari seorang raja yang bernama raja Indra Bungsu yang tidakmemiliki anak, Indra Bangsawan diasuh oleh raksasa dan dianggap sebagai neneknyadan sampai akhirnya Indra Bangsawan menyamar menjadi sebagai Si Hutan masuk kekerajaan antah berantah. Dan dengan kepandaiannya buraksa raksasa dapatdikalahkan. Kemudian Indra Bangsawan dihadiahi oleh raja antah berantah untukmenjadi suami Putri Kemala Sari. Ø Penokohan a. Syah Peri Baik hati dan suka menolong; dia menolong Puteri Ratna Sarib, b. Indera Bangsawan Pemberani dan pantang menyerah; dia dapat mengalahkan buraksa raksasa,. c. Raja Indra Bungsu Sabar dalam menghadapi ujian; selalu berdo’a memohon kepada Allah untuk diberikan putra. d. Tuan Puteri Sitti Kendi sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian; selalu berdo’a memohon kepada Allah untuk diberikan putra, Sayang dan perhatian terhadap kedua putranya; Kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh dengan dengan akhlak dan perilaku yang baik. e. Raja Kabir Mudah menyerah dan mudah takluk pada musuh; Raja Khabir takluk pada Buraksa raksasa. f. Raksasa Garuda Jahat; menyerang Negara Putri Ratna Sari. g. Raksasa Perempuan Suka menolong; Banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan Buraksa kepada Indera Bangsawan. h. Raksasa Buraksa Jahat; Telah meluluh lantahkan Negara yang dipimpin Raja Kabir. i. Putri Ratna Sari Suka Menolong; menolong dayang-dayangnya dari serangan Raksasa Garuda dengan bersembunyi di dalam gendang. j. Putri Kemala Sari Patuh kepada kedua orang tua; Mau dijadikan upeti oleh sang Ayah, Raja Kabir. Ø Sudut pandang Orang ketiga sebagai pencerita karena serba tahu Ø Latar Latar tempat Negeri Kobat Syahrial, di hutan, di sebuah taman, dan di negeri antah berantah. Latar waktu Pagi, siang, sore, dan malam dalam hikayat ini terjadi pada keseluruhan waktu. Latar suasana Bahagia 1. Syah peri dan Putri Ratna Sari beserta dayang-dayangnya selamat dari serangan raksasa Garuda yang telah dikalahkan Syah Peri; 2. Indra Bangsawan dapat mengalahkan raksasa Buraksa dan hidup bahagia bersama Putri Kemala Sari; 3. Indra Bangsawan berhasil mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, dan kembali ke Negeri Kobat Syahrial dengan selamat; 4. Indra Bangsawan dinobatkan Menjadi Raja Kobat Syahrial menggantikan ayahnya; dan Syah Peri dengan kerajaannya. Sedih Di tengah perjalanan dalam mencari buluh perindu Syah Peri dan Indra Bangsawan terpisah karena angin topan, hujan lebat dan awan yang gelap gulita. Pada saat itu Putri Ratna Sari diserang raksasa Garuda, dan Negara Raja Kabir diserang raksasa Buraksa, dan pada saat Indra Bangsawan terjatuh sakit. Ø Amanat ü Hendaklah kita tidak mudah untuk menyerah. ü Hendaklah kita selalu bersikap sportif dan jujur. Ø Gaya Bahasa Majas Metafora Unsur Ektrinsik Hikayat “Indera Bangsawan” Hal ini dibuktikan oleh beberapa peristiwa yang dilakukan beberapa tokoh, contohnya melakukan pembacaan doa qunut, membagikan sedekah kepada fakir miskin, dan berserah pada Allah. Hubungan dengan masa kini yaitu pembacaan doa qunut kurang dilaksanakan, apalagi orang orang menganggap itu hanya budaya nenek moyang mereka Saling menolong sesama Tidak mudah menyerah, selalu berusaha, sportif, jujur dan menghargai usaha orang lain Pada jaman dahulu masih ada perjodohan dan kepercayaan akan kesaktian benda

unsur intrinsik dalam hikayat indera bangsawan